Pengunjung

conter12

Tuesday, 18 February 2014

Kebijaksanaan Sikap Rasulullah Saw Ketika Sedang Marah

Kebijaksanaan Sikap Rasulullah Saw Ketika Sedang Marah



Marah adalah salah satu sifat yang dimiliki manusia yang timbul dari nafsu. Ketika kita sedang diperbudak oleh nafsu amarah, maka akal kita tidak akan jalan seperti semestinya sehingga sangat mudah untuk dijerumuskan oleh setan. Kita terkadang marah karena suatu masalah yang menimpa kita, padahal marah itu tidak akan bisa menyelesaikan masalah namun justru akan menambah masalah.


Rasulullah Saw pun pernah marah, namun marah dengan niat yang benar, alasan yang benar dan cara yang benar, hasilnya pun menjadi benar. Rasulullah saat marah itu sederhana, wajahnya merah tapi tidak pernah meluarkan kata-kata selain yang baik.

Pada saat itu, kaum muslimin baru saja memenangkan perang Hunain. Mereka berhasil meluluh-lantahkan duabelas ribu pasukan musuh yang begitu berbangga dengan jumlahnya namun pada akhirnya harus tercerai berai berkat strategi perang yang jitu dari kaum muslimin, dan yang tersisa dari mereka hanya sekitar 40 orang. Pada perang tersebut, kaum Anshar-lah yang memiliki andil besar dalam kemenangan kaum muslimin. Berkat mereka pula, kaum muslimin berhasil mendapat banyak harta rampasan perang seperti kambing dan unta. Kaum Anshar yang menjadi penentu kemenangan kaum muslimin tentu menjadi yang paling berhak mendapatkan harta rampasan tersebut. Namun ternyata Rasulullah justru lebih memilih membagikan harta rampasan tersebut kepada kaum Quraisy yang baru saja masuk Islam, yang bahkan dalam peperangan tersebut mereka adalah yang paling terdepan dalam hal melarikan diri. Kaum Anshar malah tidak mendapat bagian dalam harta rampasan perang tersebut.

Tak pelak kejadian tersebut membuat ada yang mengganjal di hati kaum Anshar, Hal ini menimbulkan kejengkelan dalam hati orang-orang Anshar hingga berkembanglah pembicaraan di antara mereka, sampai ada yang mengatakan: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallamsudah bertemu dengan kaumnya kembali.” Berita cibiran itupun akhirnya sampai pada telinga Rasulullah, sehingga Rasulullah pun menjadi marah. Didatangilah kaum Anshar dan Rasul pun berkata kepada mereka.

“Wahai sekalian kaum Anshar, ada kasak kusuk yang sempat kudengar dari kalian, dan di dalam diri kalian ada perasaan yang mengganjal terhadapku. Bukankah dulu aku datang, sementara kalian dalam keadaan sesat lalu Allah memberi petunjuk kepada kalian melalui diriku? Bukankah dulu kalian miskin lalu Allah membuat kalian kaya melalui wasilahku? Bukankah dulu kalian bercerai berai lalu Allah menyatukan hati kalian dengan perantaraanku?“

Mereka menjawab, “Begitulah. Allah dan RasulNya lebih murah hati dan lebih banyak karunianya.“

“Apakah kalian tak mau menjawabku, mendebatku, membantahku, wahai orang-orang Anshar?“, tanya beliau.

Dengan terhenyak, mereka ganti bertanya, “Dengan apa kami menjawabmu Ya Rasulallah? Milik Allah dan RasulNya lah semua anugrah dan karunia…“

Beliau bersabda, “Demi Allah, kalau kalian menghendaki, dan kalian adalah benar lagi dibenarkan, maka kalian bisa mengatakan padaku: Engkau datang kepada kami dalam keadaan didustakan, lalu kami membenarkanmu. Engkau datang dalam keadaan lemah lalu kami menolongmu. Engkau datang dalam keadaan terusir lagi papa lalu kami memberikan tempat dan menampungmu..“

Air mata sudah mulai melinang, pelupuk mereka terasa panas, dan isak mulai tersedan.

“Apakah di dalam hati kalian masih membersit hasrat terhadap sampah dunia, yang dengan sampah itu aku hendak mengambil hati segolongan orang agar mereka berislam, sedang keimanan kalian tak mungkin lagi kuragukan?“

“Wahai semua orang Anshar, apakah tidak berkenan di hati kalian jika orang-orang pulang bersama kambing dan unta, sedang kalian kembali bersama Allah dan RasulNya ke tempat tinggal kalian?“

Isak itu semakin keras, janggut-janggut sudah basah oleh air mata…

“Demi Dzat yang jiwa Muhammad dalam genggamanNya, kalau bukan karena hijrah, tentu aku termasuk orang-orang Anshar. Jika manusia menempuh suatu jalan di celah gunung, dan orang-orang Anshar memilih celah gunung yang lain, tentulah aku pilih celah yang dilalui orang-orang Anshar. Ya Allah, sayangilah orang-orang Anshar, anak orang-orang Anshar, dan cucu orang-orang Anshar…“, Rasulullah menutup penjelasannya dengan doa yang begitu menenteramkan.

Sungguh mempesona apa yang telah dilakukan Rasulullah Saw ketika beliau sedang marah, Kebijaksanaan beliau dalam mengatur bagaimana mengendalikan amarah adalah sesuatu yang sangat pantas dicontoh oleh kita. Juga sikap yang ditunjukkan beliau ketika menghadapi kaum Anshar yang sedang jengkel patut untuk kita teladani. Sungguh marahnya Rasul itu sangat sederhana, tapi justru bisa sampai menyadarkan orang lain dan bahkan bisa memberikan kebaikan kepada orang lain.

sumber : http://www.salingsapa.com/khazanah/detail/383/kebijaksanaan-sikap-rasulullah-saw-ketika-sedang-marah.html





Menerima panggilan show sulap untuk semua event seperti Gathering , Lounching Product , Event, ultah dll . Ditampilkan oleh pesulap profesional dengan trick sulap yang berbeda dengan yang lain. Munculkan keajaiban ditengah acara anda. Untuk booking acara silahkan hubungi contact person kami.
call me 089657616215 (khusus jawa barat)

No comments:

Post a Comment