Bintang Lapangan Sepak Bola
Soedirman
memasuki masa sekolah pada 1923. Kala itu, berkat status Raden
Tjokrosoenarjo yang bekas pejabat, Soedirman kecil bisa memperoleh
pendidikan formal di Hollandsch-Inlandsche School (HIS, setingkat
sekolah dasar) pada usia tujuh tahun. Di sekolah milik pemerintah ini,
ia dikenal sebagai murid yang sangat rajin, berdisiplin, dan pandai.
Di sekolah
inilah bintang Soedirman mulai bersinar terang. Salah satunya lewat
olahraga kegemarannya: sepak bola. Menurut Teguh, saking piawainya
memainkan si kulit bundar, Soedirman, yang biasa berposisi sebagai
penyerang dijuluki si bintang lapangan.Pria
62 tahun itu mengatakan ayahnya juga menguasai betul aturan dan tata
cara permainan bola sepak. Lantaran dikenal sebagai sosok yang jujur,
Soedirman kemudian kerap didaulat menjadi wasit. “Kebiasaan sepak bola
ini terbawa terus sampai Bapak remaja menuju dewasa,” kata Teguh.
Di Sekolah, Jenderal Soedirman Dijuluki Kaji
Seperti ditulis Majalah Tempo Senin 12 November 2012,
Soedirman dikenal sebagai sosok yang tak segan membantu teman-temannya
dalam hal apa pun, termasuk pelajaran. Ia sangat antusias mengikuti
pelajaran bahasa Inggris, ilmu tata negara, sejarah dunia, sejarah
kebangsaan, dan agama Islam. “Saking tekunnya pada pelajaran agama,
Soedirman diberi julukan Kaji atau Haji,” ujar sejarawan Rushdy Hoesein.
Cara bergaul
ayahnya pun luwes, kata anak bungsunya, Mohammad Teguh. Dia bisa
memastikan hal itu berdasarkan cerita ibunya. Soedirman bisa berkawan
dan menempatkan diri di antara senior ataupun juniornya. “Bapak biasa
berada di tengah banyak orang. Soalnya Bapak sangat piawai berpidato,”
ujarnya. Terutama saat ayahnya getol mengurus organisasi intrasekolah
Putra-Putri Wiworotomo.
Soedirman
lulus HIS pada 1930. Ia baru masuk ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs
(MULO, setara dengan sekolah menengah pertama) Parama Wiworotomo,
Cilacap, dua tahun setelahnya dan lulus pada 1935.
Bersekolah
di MULO merupakan tahapan penting bagi Soedirman. Di sekolah itulah ia
mendapatkan pendidikan nasionalisme dari para guru yang kebanyakan aktif
di organisasi Boedi Oetomo, seperti Raden Soemojo dan Soewardjo
Tirtosoepono, lulusan Akademi Militer Breda di Belanda.
Kisah Asmara di Wiworo Tomo
Soedirman
memang begitu sayang kepada istrinya. Menurut Mohamad Teguh Bambang
Tjahjadi, 63 tahun, putra bungsu Soedirman, ibunya pernah bercerita
bagaimana bapaknya tergolong teliti untuk urusan kosmetik dan busana.
“Bapak selalu memilihkan bedak dan busana untuk Ibu. Ibu tinggal
mengenakan,” ujar Teguh. Bapaknya ternyata juga suka menjaga penampilan
agar rapi dan berwibawa, terutama saat berpidato.
Ibunya
sekali waktu bercerita, pernah saat Soedirman berpidato, ia merasa
cemburu. Soedirman saat itu berpidato di hadapan putri-putri Keraton
Solo. Mereka terlihat kagum pada penampilannya yang besus atau selalu
rapi. Selesai pidato, Alfiah berseloroh, “Kamu senang, ya? Kalau begitu
mau lagi?” Soedirman langsung menjawab, “Ya tidak, kan aku sudah punya
kamu.”
Kisah asmara
Soedirman dan Alfiah dimulai di Perkumpulan Wiworo Tomo, Cilacap.
Soedirman tersohor sebagai pemain sepak bola dan pemain tonil atau
teater. Dia dijuluki Kajine karena alim. Tatkala menjadi ketua,
Soedirman memilih Alfiah sebagai bendahara Perkumpulan. Salah seorang
teman Soedirman, menurut Teguh, bercerita, banyak pemuda naksir kepada
ibunya tapi tak berani mendekati karena segan kepada sang ayah.
Gosip
Soedirman menaksir Alfiah, kata Teguh, bermula dari kebiasaan Soedirman
berkunjung ke rumah Sastroatmodjo, orang tua Alfiah. Silaturahmi itu
berkedok koordinasi internal Muhammadiyah. Kala itu Soedirman termasuk
pengurus Hizbul Wathan dan Pemuda Muhammadiyah. Adapun orang tua Alfiah
pengurus Muhammadiyah.
Saat menjadi
guru HIS Muhammadiyah, Soedirman dikenal dermawan. Gajinya kerap
dipakai membantu tetangga. Tatkala menjadi anggota Badan Penyediaan
Pangan, lembaga penarik upeti di bawah Jepang, Soedirman bahkan tidak
memaksa warga menyetor upeti jika kekurangan.
“Nenek tahu
betul Soedirman muda naksir Alfiah. Nenek merestui karena kagum pada
kealimannya. Nenek membujuk Kakek mau menerima Soedirman menjadi
menantu. Saat itu, usia Bapak 20 tahun, Ibu 16 tahun.”
Menurut
Teguh, paman ibunya yang bernama Haji Mukmin, saudagar pemilik hotel,
sesungguhnya tidak setuju terhadap perkawinan Alfiah dan Soedirman.
Mukmin berkeras Alfiah harus mendapatkan suami dari kalangan orang kaya.
Adapun Soedirman anak ajudan wedana, yang bergaji kecil. “Akhirnya,
menurut Ibu, semua ongkos pernikahan diam-diam disiapkan Nenek. Strategi
itu agar Bapak tidak disepelekan keluarga besar Kakek.”
Dari ibunya,
Teguh mendengar, pada saat makan bersama keluarga besar, Haji Mukmin
menyingkirkan hidangan paling enak dari hadapan bapaknya. Sang ibu
tersinggung, tapi bapaknya memilih mengalah. Sikap Haji Mukmin berubah
setelah Soedirman diangkat menjadi Panglima Besar. Ketika diarak ke
Cilacap, dia melihat pamannya itu berdiri di pinggir jalan. Soedirman menghentikan mobil, lalu mengajaknya masuk ke mobil.
Soedirman Mengajar dari Kisah Pewayangan
Soedirman,
Panglima Besar TNI itu adalah seorang pengajar. Sebagai pendidik, ia tak
hanya sekedar memandu murid dari depan kelas. Dia juga menggunakan
aneka metode yang membuat murid tertarik belajar.
Soedirman
tak tamat HIK. Dia kembali ke Cilacap setahun kemudian. Soedirman lantas
bertemu R. Mohammad Kholil, tokoh Muhammadiyah Cilacap. Berkat guru
pribadinya itu, dia diangkat menjadi guru sekolah dasar di
Hollandsch-Inlandsche School (HIS) Muhammadiyah Cilacap.
Bangunan
HIS Muhammadiyah, tempat Soedirman dulu mengajar, kini tak berbekas.
Sejak 1993, bangunan tua di tepi Jalan Jenderal Soedirman, Cilacap, itu
dirobohkan. Sebagai gantinya, tepat di lokasi tersebut berdiri Taman
Kanak-kanak Aisyiah 1.
Sekolah
usia dini yang terdiri dari dua kelas dan satu ruang guru tersebut
bersembunyi di balik Gedung Dakwah Soedirman, bangunan dua lantai markas
Pengurus Daerah Muhammadiyah Cilacap. “Ini untuk mengenang sekaligus
tak mengubah fungsi lokasi tersebut sebagai tempat pendidikan,” kata
Arif Romadlon, Ketua Pengurus Daerah Muhammadiyah Cilacap, Ahad lalu.
Sardiman, dosen sejarah Universitas Negeri Yogyakarta, dalam bukunya Guru Bangsa: Sebuah Biografi Jenderal Soedirman (2008), menuturkan bahwa Soedirman berhasil menarik perhatian murid-muridnya saat mengajar.
Marsidik,
salah satu murid HIS Muhammadiyah yang diwawancarai Sardiman pada 1997,
menuturkan cara mengajar Soedirman tak monoton, terkadang sambil
bercanda dan acap diselingi pesan agama dan nasionalisme. “Soedirman
juga sering mengambil kisah-kisah pewayangan,” kata Sardiman kepada Tempo pada Ahad lalu.
sumber ; http://serbasejarah.wordpress.com/2012/11/24/jenderal-soedirman-kisah-panglima-besar-pejuang-bersahaja/
sumber ; http://serbasejarah.wordpress.com/2012/11/24/jenderal-soedirman-kisah-panglima-besar-pejuang-bersahaja/

No comments:
Post a Comment